Berteman Baik dengan “LDL Jahat”

Begitu tahu jurus koentji-nya adalah metabolisme lemak, mayoritas kita spontan membatin “lemak kan bahaya!”. Gak pa pa, sepenuhnya sangat memaklumi, mari kita tetap merujuk pada hasil cek lab sebagai instrumen kontrol yang kita yakini kebenarannya, inilah yang akan menunjukkan apakah Low Carb Diet yang kita jalani membawa kita semakin sehat, atau malah menyimpang dan membahayakan kesehatan. Cek lab juga berperan sebagai early warning, jangan ragu untuk rajin cek lab, karena semakin dini ketahuan ada penyimpangan, sesegera mungkin dapat dikoreksi agar kembali ke jalan yang lurus.

Hasil cek lab yang kita terima selalu disertai dengan nilai rujukan normal, dimana nilai normal ini merupakan “jaring pengaman” yang akan menjaga kita tetap sehat dengan meminimalkan tingkat risiko penyakit. Disini kita sudah familar dengan jenis-jenis pemeriksaan seperti: kolesterol, HDL, LDL, trigliserid, gula puasa, gula 2 jam, HbA1C.

Sama halnya dengan berkembangnya metode terapi yang telah teruji secara klinis serta memberikan tingkat remisi diabetes yang tinggi, demikian juga telah berkembang penelitian ilmiah yang semakin memberikan pemahaman baru atas korelasi hasil cek lab dengan risiko kesehatan seperti atherosclerosis yang menjadikan penyakit jantung koroner dan stroke. Termasuk disini kita jadi lebih memahami duduk perkara sejatinya terkait HDL dan LDL, bahwa masing-masing memiliki peran tugasnya, sama sekali tidak terkait dengan persepsi “HDL baik” dan “LDL jahat”, sesungguhnya keduanya sama-sama “baik”. Namun menariknya, LDL memang bisa berubah menjadi “jahat”.

Disini kisahnya panjang banget, begitu banyak referensi dikisahkan dengan sangat baiknya di Youtube, saya pribadi harus membaca dan nonton berkali-kali termasuk cross referencing dengan berbagai sumber lain untuk dapat gambaran besar yang utuh. Seharusnya kisahnya runtut dari depan, dimulai dari memahami kolesterol yang selama ini kita takuti, bagaimana mekanisme transportasi kolesterol di dalam tubuh kita yang so amazing berjalan dalam orkestrasi yang begitu rapinya, termasuk memahami bagaimana penyakit jantung, stroke muncul sebagai akibat mekanisme transportasi kolesterol yang tidak lagi berjalan sesuai seharusnya. Dan ini tidak disebabkan karena kita makan kolesterol. Shocking ya, memang tidak mudah diterima, semoga someday ini bisa saya kisahkan lengkap panjang lebar. Untuk sekarang, yang esensial dulu aja, simak terus sampai tuntas ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *