My Journey
Pertama kali saya ketahuan diabetes adalah tahun 2010, saat itu gula puasa di 261, gula 2 jam di 378 dan HbA1C 9,8. Long story short, kemudian berhasil hidup bersama diabetes, gula bisa terkendali di HbA1C kisaran 6,4-7 dengan olahraga intens dan menu bahagia. Saat masa jaya gowes AKAP (Antar Kota Antar Propinsi), bisa dipastikan setiap weekend rutin gowes ratusan kilometer. Puncaknya di bulan Februari 2015 pecah rekor HbA1C terbaik di 5,6 dengan trigliserid 80, truly epic!
Qadarullah terjadi kecelakaan saat gowes di April 2019 menjadikan ada retak tulang punggung (fraktur vertebra). Sejak itu gula kembali merangkak naik. Sudah mencoba olahraga renang yang bersahabat untuk punggung, sudah membelah air sedemikian kerasnya tapi gula tetap tidak mau turun sehingga HbA1C kembali menyentuh 9,5. Berasa seperti kehabisan pilihan, akhirnya dipakailah jurus BPJS, mulai rutin mengkonsumsi obat diabetes selama 2 tahun sehingga menjadikan HbA1C ke 6,8 pada bulan Mei 2021.
HbA1C looks good, istilahnya “terkendali” lah ya, tapi koq trigliserid masih warning, lebih dari batas atas 150. Secara historis juga cenderung naik, padahal selama 2020 juga sudah intens gowes stasioner. Feels like, pakai obat maksimal yaa hanya sampai sana. Padahal, setahun belakangan sudah belajar banyak referensi low carb diet dan sudah nyata secara ilmiah akan membawa pada remisi diabetes. So, I decide how to live my life, saatnya memberanikan diri praktek langsung.

Start langsung lepas obat dan lepas suntik dengan memadukan tiga jurus sekaligus: low carb diet, intermittent fasting dan olahraga HIIT (High Intensity Interval Training). Hasilnya di tiga bulan pertama, HbA1C sudah menyentuh 6,9, level yang more less sama saat awal memulai, bedanya: sudah sama sekali lepas obat.
Kejutan membahagiakan kemudian datang berentetan. Bulan ke-5, gula puasa pertama kalinya bisa menyentuh 100-an. Bulan ke-8 di Januari 2022, pecah rekor HbA1C di 5,2, tiada menyangka bisa mencapai level “normal” tanpa perlu gowes ratusan kilometer seperti 2015 lalu. Sesudahnya tetap melanjutkan ketiga jurus dengan konsisten tanpa rasa bosan, sudah mulai jarang cek gula mandiri karena hasilnya relatif sama. Ketika ada kesempatan cek lab di bulan ke-14, sungguh surprise dong ternyata gula puasa bisa menembus dibawah 100 dan HbA1C bisa menyentuh 5, sebuah pencapaian yang sebelumnya tiada pernah terbayangkan. Seterusnya cek HbA1C stays stabil di 5.
Spill kejutan terkini: pecah rekor lagi di Desember 2023, tiada disangka HbA1C bisa menyentuh 4,9

Satu hal yang tidak seperti biasanya, saat itu secara sengaja ambil cek yang harganya lumayan istimewa, yaitu HOMA-IR (Homeostatic Model Assessment for Insulin Resistance). Ini adalah gold standard test yang sudah diakui untuk menguji tingkat resistensi insulin, tapi sayangnya baru belakangan ini dapet ilmunya, jadinya tidak ada nilai awal pembandingnya. Hasil ceknya, nilai HOMA-IR dibawah 1 yang berarti tubuh sudah sensitif terhadap insulin. Akhirnya tercapai garis finish yang diimpikan sejak lama, pertama kalinya terkonfirmasi sudah tidak ada lagi resistensi insulin yang menjadi biang kerok diabetes.

Singkat kisah, perjalanan panjang surely akan memberikan begitu banyak kejutan hadiah yang membahagiakan. Setiap pencapaian akan selalu menjadi energi semangat baru untuk terus konsisten melanjutkan perjalanan.
Menariknya, sesudah membersamai sekian peserta dalam perjalanan remisi diabetes, mayoritas peserta mengalami fase-fase pencapaian yang mirip, selalu berulang. Berikutnya akan kita bahas fase-fase yang umumnya akan dialami oleh mereka yang melakukan low carb diet, mulai dari fase detox, fase homeostasis dan fase pemulihan.