Jurus Koentji: Intermittent Fasting

“Makan Ketika Lapar”

Sederhananya, IF is simply not eating utk periode waktu tertentu. Tidak perlu menghitung jumlah jam, natural saja dengan mengikuti apa kata sinyal tubuh. Prinsipnya, “makan ketika lapar”. Jurus IF ini bisa digunakan menyertai dengan metode diet apapun, namun akan beda pada jumlah jam puasanya (biasa diistilahkan “jendela puasa”). Jika masih ada makan karbo (mengikuti metode “low fat diet“), biasanya jendela puasa yang masih nyaman hanya maksimal sekitar 18 jam, selebihnya akan disertai pusing. Sementara, jika tidak ada makan karbo (mengikuti metode “low carb diet“), jendela puasa bisa sangat panjang sekali, bisa 24 jam bahkan lebih. Koq bisa? Karena kebutuhan energi terpenuhi dari cadangan lemak, tubuh sudah pindah ke metabolisme lemak. IF yang dimaksud disini tetep boleh minum ya, seperti: air putih, teh tawar, kopi tawar. Boleh ditambah dengan pemanis stevia. Ada variasi minuman lainnya yang diperbolehkan, beberapa lainnya harus dicoret karena mengandung kalori. Someday akan saya kisahkan supaya tidak terlalu rumit di kesempatan pertama ini.

Lakukan IF secara bertahap, beri kesempatan tubuh untuk beradaptasi. Semisal kita pilih start IF di jam 20. Bebas makan sepuasnya dengan menu low carb, selesai makan di jam 20, biasanya ini disebut “last meal“. Esok harinya ikuti apa kata tubuh, kalau pagi di jam 10 sudah terasa lapar, gpp makan aja sejauh tetap dengan menu low carb. Sesudah jam 10 hingga jam last meal, ini seringnya disebut “jendela makan”, bebas boleh makan dan nyemil sejauh menu low carb, tidak perlu hitung jumlah kalori, utamakan kebahagiaan makan. Tidak perlu kuatir harus langsung kejar jumlah jam puasa tertentu. Sesudah mengulangi last meal di jam makan yang sama, cermati kemunculan lapar di hari berikutnya. Biasanya, kemunculan lapar akan semakin mundur. Sebelumnya jam 10 sudah terasa lapar, kita akan terheran-heran koq di jam 10 masih terasa nyaman aja. Jika belum jam 10 koq sudah lapar, biasanya itu indikasi bahwa menu last meal kurang banyak porsi lemaknya, bisa ditambahkan ekstra telur, atau minum VCO sesudah makan.

Demikian seterusnya setiap hari hingga akhirnya kemunculan lapar berikutnya mulai mendekat dengan jam last meal, inilah yang seringnya disebut dengan OMAD, one meal a day, makan cuma sekali sehari. Kapan bisa mencapai OMAD bervariasi, bukan berarti hari keempat sudah langsung bisa OMAD, sesuai nyamannya kita masing-masing. Surprisingly, memang tidak sulit koq, prosesnya memang natural sekali, bahkan tidak sedikit peserta sudah bisa mencapai OMAD padahal belum sampai seminggu memulai low carb diet. Semakin terkagum-kagum adalah ketika sudah mendekati jam last meal koq masih nyaman, ya udah lanjutkan aja tidur ke hari berikutnya, langsung deh dapat ekstra 8 jam menjadikan total dapat IF 32 jam. IF lebih dari 24 jam biasa disebut extended fasting atau prolonged fasting, dimana dalam kondisi ini akan muncul berbagai keajaiban yang sangat memberikan dampak sehat yang luar biasa didalam tubuh kita. Sebagian kisahnya dapat disimak di artikel Keajaiban Puasa.

That’s it, IF sederhana aja kan. Bisa langsung dicoba praktek, kalau ada yang masih bingung jangan ragu tanyakan di komentar yaa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *