Dampak Kebanjiran Insulin
Gaes, diabetes tidak terjadi dalam semalam. Semua itu terjadi karena di dalam tubuh kita beredar hormon insulin yang semakin meningkat setiap harinya dalam periode yang lama. Penelitian sudah mengkonfirmasi bahwa gejala awal sudah muncul hingga 13 tahun sebelum divonis sebagai diabetes, namun gejala ini cenderung kita abaikan karena masih merasa baik-baik saja. Ilustrasi dari referensi ilmiahnya dijelaskan oleh Dr Jason Fung.

Selama lebih kurang satu dekade itu, tubuh melalui organ pankreas sebenarnya bekerja ekstra keras memproduksi insulin untuk menjaga agar kadar gula darah tetap terkendali, garis dalam grafik diatas memang naik tapi relatif masih landai, jika dikonversi ke satuan kita hanya perlahan naik berkisar 100 – 120, itulah yang membuat kita cenderung masih merasa baik-baik saja.
Apa yang terjadi di masa awal ini sebenarnya hormon insulin di dalam tubuh kita semakin banyak beredar, dan jumlahnya semakin meningkat drastis dari waktu ke waktu. Bisa disimak penjelasan dan ilustrasi yang sangat bagus dari Dr Sten Ekberg.

Kini kita memahami bahwa insulin patut menjadi perhatian utama ketimbang gula darah. Ilustrasi diatas menunjukkan bahwa organ pankreas sungguh sangat perkasa memproduksi insulin berpuluh-puluh kali lipat selama satu dekade lebih sebagai upaya untuk menjaga kadar gula agar tidak membahayakan bagi tubuh. Gula darah yang merangkak naik merupakan tanda mulai ada resistensi insulin, di tahap awal ini sudah terjadi fatty liver. Kalau belum ada gambaran seperti apa fatty liver bisa disimak di posting ini. Secara klinis sebenarnya sudah masuk fase prediabetes, tapi ya itu, “masih baik-baik saja koq”.
Jika penasaran ingin tahu kadar insulin dalam darah bisa cek lab kok, namanya “HOMA-IR” (Homeostatic Model Assessment for Insulin Resistance), nanti akan dapat pengukuran kadar insulin, sekaligus dapat skor untuk menilai seberapa resistensi insulin. Lebih lanjut tentang test HOMA-IR akan dikisahkan di kesempatan lain ya.
Pola makan selama satu dekade yang cenderung berkalori tinggi dan rendah serat, juga gaya hidup yang cenderung tidak banyak gerak (“sedentary“), menjadikan tubuh selalu meningkatkan produksi insulin agar dapat mengkonversi besarnya glukosa sebagai energi. Namun karena tidak adanya aktivitas fisik yang membutuhkan energi, alhasil tubuh harus menyimpan semua kelebihan energi ini dalam bentuk lemak. Penyimpanan lemak pertama yang akan digunakan oleh tubuh adalah liver, namun kapasitas penyimpanannya terbatas, ketika penuh kemudian tubuh harus menyimpan lemak di tempat-tempat lain, seperti di dalam rongga perut, dan organ lain juga kena sasaran, salah satunya: pankreas. Dampak pankreas yang kena lemak ini namanya pancreatic steatosis, menjadikan sangat berkurang kemampuan produksi insulin, kisah dan ilustrasinya juga sudah diposting disini. Ketika pabrik insulin sudah macet, produksi insulinnya drop, saat itulah tak terhindarkan lagi gula darah melonjak tinggi, saat itulah divonis diabetes. Sayangnya, butuh sekian tahun lagi baru kemudian kita ngeh tapi gula darah dah meroket, biasanya sudah mulai ada kena komplikasi juga, mulai sering pipis, mulai sering kesemutan, sering lemes, dan sebagainya. Seperti biasa kelanjutan episodenya kemudian lazimnya disolusikan dengan wajib suntik insulin.
Selama fase prediabetes, kondisi kadar insulin yang selalu tinggi di dalam darah ini sesungguhnya bersifat toksik bagi sel tubuh, secara alamiah kemudian sel tubuh mengaktifkan mekanisme proteksi bernama “resistensi insulin”, dimana sel tubuh membuat benteng pertahanan diri dari banjir insulin. Dari waktu ke waktu, benteng pertahanan semakin meluas, inilah yang menjadikan organ pankreas harus selalu kerja ekstra keras memproduksi insulin. Analogi yang sangat mirip adalah “resistensi antibiotik”, dimana ketika kita sering minum satu jenis antibiotik maka nantinya bakteri akan resisten terhadap antibiotik itu yang kemudian harus upgrade ke jenis antibiotik lain yang lebih kuat. Respon kita sekarang ini terhadap “resistensi insulin” ketika pabrik insulin dianggap sudah macet adalah persis seperti di dunia antibiotik, kita diberikan injeksi insulin, ditingkatkan lebih tinggi lagi kadar insulin di dalam darah untuk “memaksa” sel tubuh membuka proteksinya agar mau membakar glukosa. Seiring dengan makin besar dosis insulin yang diinjeksikan, akan menjadikan sel tubuh semakin memperkuat benteng pertahanan diri, resistensi insulin semakin menjadi, tidak bakal sembuh. Disinilah kita memelihara “penyakit seumur hidup” beserta seluruh komplikasi penyakit yang akan menyertai.
Ujung akhir komplikasi kita sudah sangat familiar. Namun sebenarnya tubuh sudah memberikan tanda-tanda sebagai peringatan dini. Saatnya kita kenali apa saja tanda-tanda yang harus kita cermati.