Sungguh tiada disangka bahwa secara ilmiah telah menunjukkan begitu banyaknya keajaiban yang terjadi pada tubuh ketika melakukan intermittent fasting. Begitu banyak hal-hal yang mengagumkan, semakin banyak membaca literatur seperti tiada habis banyak menemukan keajaiban baru. Sedikit yang saya ketahui belum sempat saya tuangkan dalam tulisan, namun esensi “dasar teori”-nya pernah saya sampaikan dalam webinar “Jurus Sehat Mencapai Berat Badan Ideal”. Semoga dengan ini menjadikan semakin semangat menjalankan intermittent fasting dalam keseharian.
Category: Science
Jurus Koentji: Intermittent Fasting
Ini jurus yang sangat breakthrough. Betapa puasa memunculkan begitu banyak keajaiban di dalam tubuh manusia, mulai dari renegerasi sel otak (Brain-Derived Neurotropic Factor – BDNF), self repair dan regenerasi (autophagy), regenerasi sistem imunitas, dan sungguh begitu banyaknya. Saking banyaknya, belum sempat dituliskan tersendiri, namun dapat disimak sebagian kisahnya dari recording webinar ini.
Mari kita awali dengan memahami berbagai penelitian terkini tentang intermittent fasting karena hasilnya sungguh sangat amazing untuk memantapkan langkah menuju remisi diabetes. Berikutnya intermittent fasting kita singkat saja sebagai “IF” ya.
Berteman Baik dengan “LDL Jahat”
Begitu tahu jurus koentji-nya adalah metabolisme lemak, mayoritas kita spontan membatin “lemak kan bahaya!”. Gak pa pa, sepenuhnya sangat memaklumi, mari kita tetap merujuk pada hasil cek lab sebagai instrumen kontrol yang kita yakini kebenarannya, inilah yang akan menunjukkan apakah Low Carb Diet yang kita jalani membawa kita semakin sehat, atau malah menyimpang dan membahayakan kesehatan. Cek lab juga berperan sebagai early warning, jangan ragu untuk rajin cek lab, karena semakin dini ketahuan ada penyimpangan, sesegera mungkin dapat dikoreksi agar kembali ke jalan yang lurus.
Hasil cek lab yang kita terima selalu disertai dengan nilai rujukan normal, dimana nilai normal ini merupakan “jaring pengaman” yang akan menjaga kita tetap sehat dengan meminimalkan tingkat risiko penyakit. Disini kita sudah familar dengan jenis-jenis pemeriksaan seperti: kolesterol, HDL, LDL, trigliserid, gula puasa, gula 2 jam, HbA1C.
Sama halnya dengan berkembangnya metode terapi yang telah teruji secara klinis serta memberikan tingkat remisi diabetes yang tinggi, demikian juga telah berkembang penelitian ilmiah yang semakin memberikan pemahaman baru atas korelasi hasil cek lab dengan risiko kesehatan seperti atherosclerosis yang menjadikan penyakit jantung koroner dan stroke. Termasuk disini kita jadi lebih memahami duduk perkara sejatinya terkait HDL dan LDL, bahwa masing-masing memiliki peran tugasnya, sama sekali tidak terkait dengan persepsi “HDL baik” dan “LDL jahat”, sesungguhnya keduanya sama-sama “baik”. Namun menariknya, LDL memang bisa berubah menjadi “jahat”.
Disini kisahnya panjang banget, begitu banyak referensi dikisahkan dengan sangat baiknya di Youtube, saya pribadi harus membaca dan nonton berkali-kali termasuk cross referencing dengan berbagai sumber lain untuk dapat gambaran besar yang utuh. Seharusnya kisahnya runtut dari depan, dimulai dari memahami kolesterol yang selama ini kita takuti, bagaimana mekanisme transportasi kolesterol di dalam tubuh kita yang so amazing berjalan dalam orkestrasi yang begitu rapinya, termasuk memahami bagaimana penyakit jantung, stroke muncul sebagai akibat mekanisme transportasi kolesterol yang tidak lagi berjalan sesuai seharusnya. Dan ini tidak disebabkan karena kita makan kolesterol. Shocking ya, memang tidak mudah diterima, semoga someday ini bisa saya kisahkan lengkap panjang lebar. Untuk sekarang, yang esensial dulu aja, simak terus sampai tuntas ya.
Jurus Koentji: Metabolisme Lemak
Nah, ini bagian yang sulit, paling penuh kontra, penuh persepsi negatif, dianggap berbahaya, dan sebagainya. Jika sudah sampai disini dan niatnya tidak ingin tersandera oleh diabetes, let’s unlearn dari yang sebelumnya kita yakini, bertahanlah ikuti terus kisahnya disini, everything is scientific, kita akan relearn menyegarkan kembali pemahaman kita dengan perspektif baru.
Sebelumnya. kita sudah memahami bahwa diabetes disebabkan oleh tubuh kita yang dibanjiri oleh insulin sehingga terjadi kondisi yang disebut dengan resistensi insulin. Apa yang terjadi adalah sepanjang hidup kita selama ini kita selalu mendayagunakan metabolisme karbo, dimana hasil akhir metabolismenya berupa glukosa, dan untuk mengkonversinya menjadi energi dibutuhkan insulin. Insulin adalah signaling hormone, tidak hanya menginstruksikan sel tubuh untuk membakar glukosa, namun juga menginstruksikan tubuh untuk menyimpan kelebihan energi sebagai lemak. Singkat kisah, jika di dalam tubuh kita terdapat kadar insulin yang tinggi, maka tubuh kita dalam mode “fat storage“. Dalam mode ini, tubuh akan memprioritaskan sumber energi dari intake karbo yang dimakan, tubuh akan mengirimkan sinyal lapar ketika energi habis agar selalu diberikan intake karbo lagi, sehingga tubuh tidak akan pernah menggunakan sumber energi lemak yang sebelumnya telah tersimpan.
Naturally tubuh manusia dilengkapi dengan pasangan metabolisme karbo, yaitu metabolisme lemak yang ditujukan untuk kebalikan prosesnya, yaitu mendayagunakan lemak yang telah disimpan dalam tubuh sebagai sumber energi. Ini adalah bagian dari mekanisme survival tubuh manusia dalam merespon siklus makan dan puasa yang datang silih berganti. Dalam masa panen dimana berlimpah makanan, maka tubuh akan menyimpan kelebihannya sebagai cadangan energi berupa lemak. Di kala tiba masa paceklik dimana makanan tidak tersedia setiap saat, tubuh dapat mendayagunakan cadangan energi lemak. Pada masa itu, semua terjadi secara seimbang. Namun pada masa modern saat ini, setiap hari sepanjang tahun berlimpah dengan makanan, sehingga sepanjang usia tubuh ini didominasi oleh metabolisme karbo, prosesnya tidak lagi seimbang, menjadikan gangguan fungsi metabolisme yang cirinya dikenal sebagai metabolic syndrome.
Bagaimana caranya agar tubuh berpindah ke mode “fat burning“? Penentunya adalah hormon insulin. Tubuh akan mengaktifkan mode fat burning selama hormon insulin berada pada level terendah. Sesuai referensi, semua jenis makanan akan memicu peningkatan hormon insulin, namun yang peningkatannya paling rendah adalah lemak. Dalam berbagai literatur ilmiah, pola diet tinggi lemak ini disebut dengan “Low Carb Diet“.

Dalam mode fat burning, hasil akhir metabolisme lemak adalah ketones. Inilah sumber energi yang dapat langsung digunakan oleh setiap sel tubuh tanpa membutuhkan bantuan insulin. Ini adalah proses alamiah, sejatinya kodrat metabolisme lemak adalah seperti itu, tidak seperti yang dipersepsikan masyarakat pada umumnya bahwa “keton berbahaya”.
Ciri utama tubuh sudah berada dalam mode fat burning adalah tidak lagi ada rasa lapar, karena ketika energi habis tubuh dapat langsung membakar lemak yang sudah tersimpan di dalam tubuh (body fat) sebagai energi. Tubuh yang berada dalam mode ini menjadikan intermittent fasting lebih nyaman dijalani serta terasa natural, tidak hanya durasi puasa 16 jam, bahkan bisa lebih panjang seperti OMAD (one meal a day, setara durasi puasa 24 jam). Literatur di tahun 1950-an menggunakan puasa 14 hari sebagai metode terapi. Puasa paling lama yang masuk world record adalah 382 hari di tahun 1970-an.

Tubuh tetap punya mekanisme rasa lapar, namun rasa lapar yang sesungguhnya adalah ketika tubuh kehabisan nutrisi, bukan ketika kehabisan energi. Kebutuhan tubuh manusia sehari-hari adalah energi dan nutrisi, harus ada keduanya dalam kadar harian yang memadai tanpa ditinggalkan salah satunya. Pilihan sumber energi ada karbo dan lemak, masing-masing memiliki karakteristik energi yang berbeda, sama sekali tidak ada kaitan dengan persepsi publik “lemak lebih jahat daripada karbo”. Energi karbo bersifat lebih instan dan explosive, sementara energi lemak lebih bersifat konstan dan endurance (jangka panjang). Nutrisi berperan penting sekali untuk berfungsinya seluruh organ tubuh kita, dimana suplai utama nutrisi bersumber dari diet (apa yang kita makan). Jika intake nutrisi kurang mencukupi atau kurang beragam (tidak lengkap), biasanya ada muncul gejala defisiensi nutrisi yang spesifik, seperti: terasa kesemutan karena kurang vitamin B. Contoh lain yang lebih ringan, ketika menjalani intermittent fasting sudah lebih dari 24 jam, biasanya ada terasa seperti sulit fokus, otot seperti berat sulit diajak gerak, ini ciri tubuh kekurangan elektrolit. Sesudah ada intake cairan elektrolit, seketika tubuh kembali nyaman. Ciri dominan ketika mayoritas nutrisi tubuh sudah habis adalah terasa lapar yang disertai perasaan emosional yang campur aduk, terasa seperti uring-uringan mau ngamuk, plus kepala pusing dan lemot banget mikir. Inilah lapar yang sesungguhnya, jika sudah terasa seperti itu, atau sudah tidak nyaman lagi, langsung dicukupkan saja dengan berbuka. Ini sebagian contoh saja, lebih detail apa dan bagaimana menjalani intermittent fasting akan dikisahkan tersendiri ya.
Tubuh yang sudah aktif dalam mode fat burning, aktivitas apapun yang dilakukan akan menggunakan lemak sebagai sumber energi. Bahkan, ketika aktivitas membutuhkan jumlah energi yang lebih besar dari jumlah lemak yang dimakan, maka tubuh tidak hanya membakar dietary fat (lemak dari apa yang dimakan) namun juga body fat. Kondisi ini menjadikan kadar insulin di dalam tubuh konsisten berada dalam level rendah. Sel tubuh akan sensing bahwa kondisinya sekarang tidak lagi membahayakan karena kadar insulin selalu rendah, secara natural kemudian sel tubuh akan membuka benteng pertahanan diri, tidak lagi perlu melindungi dirinya terhadap kadar insulin. Alhasil sel tubuh akan kembali sensitif terhadap insulin, tidak ada lagi resistensi insulin, ketika ada glukosa beredar langsung dapat dibakar seluruhnya sebagai energi. Metabolisme tubuh kembali normal, dapat bonus banyak berkurang lingkar perut (abdominal obesity), tidak ada lagi metabolic syndrome.
Happy ending.
Belum. Pasti ada diantara kita yang membatin “makan lemak kan bahaya!”. Gpp sangat dimaklumi koq, langsung bisa lanjut ke postingan berikutnya Berteman Baik dengan “LDL Jahat”.
The Beginning of Diabetes
Panjang ini ceritanya. Diabetes tidak terjadi sekejap mata, prosesnya terjadi puluhan tahun sebelum jatuh vonis sebagai pasien diabetes. Dan bagaimana asal muasal dan proses terjadinya diabetes perlu kita pahami, agar kita bisa menjaga kesehatan, agar kita bisa menikmati hidup yang kita dambakan tanpa kuatir diabetes akan kembali lagi.
Awalannya, kita perlu mengenal lebih dekat dengan “insulin” yang mungkin lebih kita kenal berkaitan dengan “suntik insulin”. Ya, bukan gula. Asal muasalnya diabetes bukan karena gula, tapi karena insulin. Makanya lanjut kenalan dulu dengan insulin.



