Jurus Koentji: Metabolisme Lemak

Nah, ini bagian yang sulit, paling penuh kontra, penuh persepsi negatif, dianggap berbahaya, dan sebagainya. Jika sudah sampai disini dan niatnya tidak ingin tersandera oleh diabetes, let’s unlearn dari yang sebelumnya kita yakini, bertahanlah ikuti terus kisahnya disini, everything is scientific, kita akan relearn menyegarkan kembali pemahaman kita dengan perspektif baru.

Sebelumnya. kita sudah memahami bahwa diabetes disebabkan oleh tubuh kita yang dibanjiri oleh insulin sehingga terjadi kondisi yang disebut dengan resistensi insulin. Apa yang terjadi adalah sepanjang hidup kita selama ini kita selalu mendayagunakan metabolisme karbo, dimana hasil akhir metabolismenya berupa glukosa, dan untuk mengkonversinya menjadi energi dibutuhkan insulin. Insulin adalah signaling hormone, tidak hanya menginstruksikan sel tubuh untuk membakar glukosa, namun juga menginstruksikan tubuh untuk menyimpan kelebihan energi sebagai lemak. Singkat kisah, jika di dalam tubuh kita terdapat kadar insulin yang tinggi, maka tubuh kita dalam mode “fat storage“. Dalam mode ini, tubuh akan memprioritaskan sumber energi dari intake karbo yang dimakan, tubuh akan mengirimkan sinyal lapar ketika energi habis agar selalu diberikan intake karbo lagi, sehingga tubuh tidak akan pernah menggunakan sumber energi lemak yang sebelumnya telah tersimpan.

Naturally tubuh manusia dilengkapi dengan pasangan metabolisme karbo, yaitu metabolisme lemak yang ditujukan untuk kebalikan prosesnya, yaitu mendayagunakan lemak yang telah disimpan dalam tubuh sebagai sumber energi. Ini adalah bagian dari mekanisme survival tubuh manusia dalam merespon siklus makan dan puasa yang datang silih berganti. Dalam masa panen dimana berlimpah makanan, maka tubuh akan menyimpan kelebihannya sebagai cadangan energi berupa lemak. Di kala tiba masa paceklik dimana makanan tidak tersedia setiap saat, tubuh dapat mendayagunakan cadangan energi lemak. Pada masa itu, semua terjadi secara seimbang. Namun pada masa modern saat ini, setiap hari sepanjang tahun berlimpah dengan makanan, sehingga sepanjang usia tubuh ini didominasi oleh metabolisme karbo, prosesnya tidak lagi seimbang, menjadikan gangguan fungsi metabolisme yang cirinya dikenal sebagai metabolic syndrome.

Bagaimana caranya agar tubuh berpindah ke mode “fat burning“? Penentunya adalah hormon insulin. Tubuh akan mengaktifkan mode fat burning selama hormon insulin berada pada level terendah. Sesuai referensi, semua jenis makanan akan memicu peningkatan hormon insulin, namun yang peningkatannya paling rendah adalah lemak. Dalam berbagai literatur ilmiah, pola diet tinggi lemak ini disebut dengan “Low Carb Diet“.

Semua jenis makanan memicu peningkatan rilis hormon insulin, namun lemak adalah yang paling minim.

Dalam mode fat burning, hasil akhir metabolisme lemak adalah ketones. Inilah sumber energi yang dapat langsung digunakan oleh setiap sel tubuh tanpa membutuhkan bantuan insulin. Ini adalah proses alamiah, sejatinya kodrat metabolisme lemak adalah seperti itu, tidak seperti yang dipersepsikan masyarakat pada umumnya bahwa “keton berbahaya”.

Ciri utama tubuh sudah berada dalam mode fat burning adalah tidak lagi ada rasa lapar, karena ketika energi habis tubuh dapat langsung membakar lemak yang sudah tersimpan di dalam tubuh (body fat) sebagai energi. Tubuh yang berada dalam mode ini menjadikan intermittent fasting lebih nyaman dijalani serta terasa natural, tidak hanya durasi puasa 16 jam, bahkan bisa lebih panjang seperti OMAD (one meal a day, setara durasi puasa 24 jam). Literatur di tahun 1950-an menggunakan puasa 14 hari sebagai metode terapi. Puasa paling lama yang masuk world record adalah 382 hari di tahun 1970-an.

Kebutuhan tubuh manusia adalah energi dan nutrisi

Tubuh tetap punya mekanisme rasa lapar, namun rasa lapar yang sesungguhnya adalah ketika tubuh kehabisan nutrisi, bukan ketika kehabisan energi. Kebutuhan tubuh manusia sehari-hari adalah energi dan nutrisi, harus ada keduanya dalam kadar harian yang memadai tanpa ditinggalkan salah satunya. Pilihan sumber energi ada karbo dan lemak, masing-masing memiliki karakteristik energi yang berbeda, sama sekali tidak ada kaitan dengan persepsi publik “lemak lebih jahat daripada karbo”. Energi karbo bersifat lebih instan dan explosive, sementara energi lemak lebih bersifat konstan dan endurance (jangka panjang). Nutrisi berperan penting sekali untuk berfungsinya seluruh organ tubuh kita, dimana suplai utama nutrisi bersumber dari diet (apa yang kita makan). Jika intake nutrisi kurang mencukupi atau kurang beragam (tidak lengkap), biasanya ada muncul gejala defisiensi nutrisi yang spesifik, seperti: terasa kesemutan karena kurang vitamin B. Contoh lain yang lebih ringan, ketika menjalani intermittent fasting sudah lebih dari 24 jam, biasanya ada terasa seperti sulit fokus, otot seperti berat sulit diajak gerak, ini ciri tubuh kekurangan elektrolit. Sesudah ada intake cairan elektrolit, seketika tubuh kembali nyaman. Ciri dominan ketika mayoritas nutrisi tubuh sudah habis adalah terasa lapar yang disertai perasaan emosional yang campur aduk, terasa seperti uring-uringan mau ngamuk, plus kepala pusing dan lemot banget mikir. Inilah lapar yang sesungguhnya, jika sudah terasa seperti itu, atau sudah tidak nyaman lagi, langsung dicukupkan saja dengan berbuka. Ini sebagian contoh saja, lebih detail apa dan bagaimana menjalani intermittent fasting akan dikisahkan tersendiri ya.

Tubuh yang sudah aktif dalam mode fat burning, aktivitas apapun yang dilakukan akan menggunakan lemak sebagai sumber energi. Bahkan, ketika aktivitas membutuhkan jumlah energi yang lebih besar dari jumlah lemak yang dimakan, maka tubuh tidak hanya membakar dietary fat (lemak dari apa yang dimakan) namun juga body fat. Kondisi ini menjadikan kadar insulin di dalam tubuh konsisten berada dalam level rendah. Sel tubuh akan sensing bahwa kondisinya sekarang tidak lagi membahayakan karena kadar insulin selalu rendah, secara natural kemudian sel tubuh akan membuka benteng pertahanan diri, tidak lagi perlu melindungi dirinya terhadap kadar insulin. Alhasil sel tubuh akan kembali sensitif terhadap insulin, tidak ada lagi resistensi insulin, ketika ada glukosa beredar langsung dapat dibakar seluruhnya sebagai energi. Metabolisme tubuh kembali normal, dapat bonus banyak berkurang lingkar perut (abdominal obesity), tidak ada lagi metabolic syndrome.

Happy ending.

Belum. Pasti ada diantara kita yang membatin “makan lemak kan bahaya!”. Gpp sangat dimaklumi koq, langsung bisa lanjut ke postingan berikutnya Berteman Baik dengan “LDL Jahat”.

The Beginning of Diabetes

Panjang ini ceritanya. Diabetes tidak terjadi sekejap mata, prosesnya terjadi puluhan tahun sebelum jatuh vonis sebagai pasien diabetes. Dan bagaimana asal muasal dan proses terjadinya diabetes perlu kita pahami, agar kita bisa menjaga kesehatan, agar kita bisa menikmati hidup yang kita dambakan tanpa kuatir diabetes akan kembali lagi.

Awalannya, kita perlu mengenal lebih dekat dengan “insulin” yang mungkin lebih kita kenal berkaitan dengan “suntik insulin”. Ya, bukan gula. Asal muasalnya diabetes bukan karena gula, tapi karena insulin. Makanya lanjut kenalan dulu dengan insulin.

Diabetes Bisa Sembuh!

“Diabetes adalah penyakit seumur hidup”

Begitulah doeloe seperti itu yang sampai ke kita. Tidak salah sesuai pemahaman saat itu, namun penelitian tentang diabetes terus berkembang, sekarang ini sudah diakui diabetes bisa sembuh, istilah resminya: Diabetes Remission

Ini memang masih baru banget kok, wajar kalau kita baru ngeh, dan bisa jadi belum banyak praktisi kesehatan yang aware. ADA (The American Diabetes Association) mengumumkan di tahun 2021 tentang kriteria remisi diabetes:

  1. HbA1c <6,5% sesudah selama 3 bulan tanpa obat dan suntik,
  2. Gula puasa <126 mg/dL
Diabetes Remission

Pengakuan ini dipicu oleh tingginya tingkat keberhasilan remisi diabetes dari terapi bariatric surgery dan terapi penurunan berat badan. Tingkat keberhasilan remisi diabetes melalui bariatric surgery adalah 70-80%, dimana hingga 2 tahun sesudah operasi memberikan penurunan berat badan hingga 40 kg. Sementara tingkat keberhasilan remisi diabetes melalui terapi penurunan berat badan mencapai 85% dengan penurunan badan mencapai lebih dari 15 kg. Terapi penurunan berat badan ini tingkat keberhasilannya lebih tinggi daripada operasi bariatrik, metodenya adalah major caloric reduction with total diet replacement, intinya: diet (pola makan). Setiap metode terapi ini ada kelebihannya sendiri. Operasi bariatrik membutuhkan biaya tinggi, tapi efektivitas terapinya sangat instan, diabetes seketika sembuh hanya dalam hitungan minggu pasca operasi. Sementara terapi diet membutuhkan waktu 12 hingga 24 bulan untuk mencapai remisi diabetes.

Hasil dari terapi ini sudah paten menunjukkan penyebab diabetes tipe 2, yaitu: penumpukan lemak yang berlebihan di organ liver dan pankreas. Salah satu fungsi organ liver adalah memang sebagai penyimpanan energi, namun ketika berlebihan menyimpan lemak akan mengganggu sensitivitas insulin. Coba lihat penampakan fatty liver ini, pasti kita sedih sekali dengan organ yang terdampak lemak sampai parah sekali.

Penampakan Fatty Liver

Organ pankreas sebagai pabrik insulin tubuh kita juga terdampak dengan penumpukan lemak, namanya pancreatic steatosis, mengurangi kemampuan sel beta dalam memproduksi insulin.

Penampakan Pancreatic Steatosis

Organ tubuh manusia sungguh mengagumkan, walaupun “babak belur” terdampak oleh diabetes, namun mampu memulihkan dirinya pasca dilakukannya terapi diet. Khususnya organ pankreas, walaupun sebelumnya secara fisik volumenya telah jauh menyusut, namun dengan melanjutkan pola diet menjadikan bentuk organ pankreas semakin penuh mendekati bentuk aslinya. Artinya, produksi insulin sangat menjanjikan dapat berfungsi normal sesudah tahun ke-2 pasca remisi diabetes.

Fatty liver seketika berkurang signifikan karena digunakan sebagai energi, berkurang hingga 80% dalam 8 minggu
Pancreatic steatosis gradual menuju normal, dimana seiring lemak pankreas menghilang turut disertai produksi insulin makin meningkat
Pasca dinyatakan remisi diabetes, secara fisik bentuk organ pankreas telah mengalami penyusutan (tahun ke-nol). Dengan melanjutkan pola diet, bentuk organ nampak semakin penuh (tahun ke-24) mendekati bentuk organ normal.

Hasil penelitian juga sudah menyatakan bahwa remisi diabetes tidak permanen, remisi harus dijaga dan dipertahankan. Satu statement yang sudah paten adalah “Whenever body weight increases, diabetes returns“. Ini sebenarnya sangat wajar, penyakit muncul karena ada penyebabnya. Bagaimana asal muasal hingga kemudian menjadi diabetes diuraikan perjalanan kisahnya panjang lebar disini. Ketika kita sudah tahu apa yang menyebabkan terjadinya diabetes, maka kita akan memahami rambu-rambu kesehatan yang perlu kita jaga. Ilustrasi organ pankreas pasca remisi diatas secara faktual menunjukkan bahwa kita harus terus melanjutkan pola gaya hidup sehat hingga fungsi organ kembali berfungsi 100%. Jika organ pankreas belum pulih namun kita sudah kembali gaya hidup sembarangan, tentulah wajar jika organ pankreas kembali dipenuhi dengan lemak, dan organ pankreas kembali menyusut. Ini adalah hubungan kausalitas yang sangat logis. Diabetes bukanlah “penyakit seumur hidup”, lebih tepatnya: “diabetes adalah penyakit seumur hidup, jika kita inginkan demikian”.

Intro

Saya adalah mantan penderita diabetes. Bukan sebuah klaim pribadi, namun scientifically didukung oleh hasil cek lab. Ya, ini memang fakta yang tidak mudah diterima di masyarakat kita saat ini.

Saya sudah menjalani prosesnya sejak Mei 2021, dan selama ini juga telah membersamai banyak penderita dari berbagai usia yang ingin kembali sehat tidak lagi menyandang predikat “pasien diabetes”. Saya meyakini bahwa proses ini replicable, sebuah pola gaya hidup sehat yang dapat dilakukan oleh kita semua, diabetes tidak lagi sebuah “penyakit seumur hidup”. Ini satu statement yang saya sangat memaklumi bahwa tidak semua bisa sepakat, tentu gpp kita berbeda pandangan karena semua itu kembali pada pilihan kita bagaimana menjalani kehidupan kedepannya.

Bagaimana caranya akan saya tumpahkan semuanya di blog ini, spesifik untuk diabetes tipe 2. Saya akan share sependek apa yang saya ketahui berdasarkan referensi ilmiah yang telah saya pelajari. Sebelum saya memulai ini semua, proses belajar saya membutuhkan waktu setahun sendiri, untuk memahami ranah pengetahuan baru yang termasuknya bertentangan dengan apa yang umumnya dipahami, untuk mengangkat semua keraguan dalam diri saya pribadi sehingga terbangun pemahaman baru yang memadai sebagai basis keputusan on how to live my life.

Saya bukan dokter, bukan ahli gizi, namun menyempatkan waktu untuk belajar dari mereka yang memiliki ilmu dalam bidangnya, melalui karya penelitian mereka yang terpublikasi melalui referensi buku maupun media sosial. Seluruh sharing di blog ini merupakan advokasi gaya hidup sehat, bukan merupakan medical advice. Blog ini hanya sebagai pijakan referensi awal, sangat direkomendasikan untuk melanjutkan belajar mandiri, hingga dalam diri kita terangkat semua keraguan.

Berikutnya, ikuti panduannya di halaman Start sesuai kebutuhan kita masing-masing. Jika masih ada keraguan, ikuti semua bahasan disana tentang update perkembangan ilmu pengetahuan terkait diabetes dan keajaiban puasa. Jika ingin langsung praktek, bisa langsung lompat ke bahasan konkrit bagaimana menjalani programnya. Jika sudah praktek mandiri tapi koq hasilnya belum sesuai harapan, untuk lebih jelasnya bisa mengikuti kelas/webinar pendampingan. Jangan ragu untuk say hello atau tanya-tanya via sosmed yaa.

Selamat menjemput sehat yang diidamkan, inilah ikhtiar kita, semoga bisa istiqomah menjalani prosesnya.